{"id":1904,"date":"2014-03-17T10:45:33","date_gmt":"2014-03-17T03:45:33","guid":{"rendered":"http:\/\/pertaniansehat.com\/?p=1904"},"modified":"2014-06-10T11:37:14","modified_gmt":"2014-06-10T04:37:14","slug":"banyak-beras-impor-diduga-berklorin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/banyak-beras-impor-diduga-berklorin\/","title":{"rendered":"Banyak Beras Impor Diduga Berklorin"},"content":{"rendered":"<p><!--:in-->MEDIA INDONESIA &#8211; BERAS impor yang mengandung zat berbahaya, klorin, diduga tidak hanya berasal dari Vietnam, tetapi juga dari negara lain. <!--:--><!--:en-->Banyak Beras Impor Diduga Berklorin <\/p>\n<p>BERAS impor yang mengandung zat berbahaya, klorin, diduga tidak hanya berasal dari Vietnam, tetapi juga dari negara lain. Ketua Umum Kelompok Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir mengungkapkan hal itu, kemarin. \u201cKalau saya punya keyakinan banyak, cuma harus dibuktikan dengan uji laboratorium,\u201c tegas Winarno.<br \/>\nMenurutnya, Indonesia meng impor beras dari India, Vietnam, Kamboja, dan Jepang. Klorin digunakan untuk memutihkan beras sehingga masyarat memilih jenis tersebut.<br \/>\nPenggunaan klorin untuk beras sebelumnya dilakukan produsen lokal. Akan tetapi, setelah ada Undang-Undang Pangan, produsen domestik menghentikan kegiatan tersebut. \u201cKarena tidak aman bagi pangan,\u201c ungkap Winarno.<br \/>\nIa mengatakan pemerintah belum pernah melakukan uji laboratorium untuk menguji beras impor. \u201cTidak pernah ada pengujian, pemerintah lengah,\u201c tegasnya.<br \/>\nTemuan beras asal Vietnam yang mengandung klorin terungkap setelah pengujian di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di Subang, Jabar, 1826 Februari 2014. Pengujian dilakukan setelah ada temuan impor beras Vietnam ilegal ke Indonesia.<br \/>\nMenteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan bahwa dalam besaran tertentu klorin masih diperbolehkan.<br \/>\n\u201cSaya sudah bilang klorin itu ada batasnya. Klorin memang dilarang, tetapi ada batasannya. Selama masih dalam batasan tertentu, itu oke,\u201d ujar Lut\ufb01 beberapa waktu lalu.<br \/>\nTemuan klorin dalam beras impor Vietnam itu, menurut Lutfi, akan ditindaklanjuti.<br \/>\nApabila kadar klorin melebihi ambang batas, ia tegas akan memberi sanksi. Namun, sejauh ini, belum ada standardisasi maksimum kandungan klorin pada beras.<br \/>\nKetua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia Ari Fachrial Syam, kemarin, mengatakan klorin adalah zat pemutih yang juga bersifat antiseptik, tetapi sama sekali tidak boleh tertelan manusia.<br \/>\n\u201cSifat klorin ini untuk membersihkan. Saya tidak tahu tu juan beras diberi klorin.<br \/>\nApa kah untuk pemutih atau mengawetkan, tetapi klorin ti dak diperbolehkan ada di makanan. Beras tidak dikonsumsi mentah, perlu diketahui apakah pencucian dan pemasakan menghilangkan klorin,\u201d ujarnya. (Bow\/Fat\/X-6)<br \/>\n<!--:--><!--more--><!--:in-->Ketua Umum Kelompok Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir mengungkapkan hal itu, kemarin. \u201cKalau saya punya keyakinan banyak, cuma harus dibuktikan dengan uji laboratorium,\u201c tegas Winarno.<\/p>\n<p>Menurutnya, Indonesia meng impor beras dari India, Vietnam, Kamboja, dan Jepang. Klorin digunakan untuk memutihkan beras sehingga masyarat memilih jenis tersebut.<\/p>\n<p>Penggunaan klorin untuk beras sebelumnya dilakukan produsen lokal. Akan tetapi, setelah ada Undang-Undang Pangan, produsen domestik menghentikan kegiatan tersebut. \u201cKarena tidak aman bagi pangan,\u201c ungkap Winarno.<br \/>\nIa mengatakan pemerintah belum pernah melakukan uji laboratorium untuk menguji beras impor. \u201cTidak pernah ada pengujian, pemerintah lengah,\u201c tegasnya.<\/p>\n<p>Temuan beras asal Vietnam yang mengandung klorin terungkap setelah pengujian di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di Subang, Jabar, 1826 Februari 2014. Pengujian dilakukan setelah ada temuan impor beras Vietnam ilegal ke Indonesia.<\/p>\n<p>Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan bahwa dalam besaran tertentu klorin masih diperbolehkan.<br \/>\n\u201cSaya sudah bilang klorin itu ada batasnya. Klorin memang dilarang, tetapi ada batasannya. Selama masih dalam batasan tertentu, itu oke,\u201d ujar Lut\ufb01 beberapa waktu lalu.<\/p>\n<p>Temuan klorin dalam beras impor Vietnam itu, menurut Lutfi, akan ditindaklanjuti.<\/p>\n<p>Apabila kadar klorin melebihi ambang batas, ia tegas akan memberi sanksi. Namun, sejauh ini, belum ada standardisasi maksimum kandungan klorin pada beras.<\/p>\n<p>Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia Ari Fachrial Syam, kemarin, mengatakan klorin adalah zat pemutih yang juga bersifat antiseptik, tetapi sama sekali tidak boleh tertelan manusia.<\/p>\n<p>\u201cSifat klorin ini untuk membersihkan. Saya tidak tahu tu juan beras diberi klorin. Apakah untuk pemutih atau mengawetkan, tetapi klorin ti dak diperbolehkan ada di makanan. Beras tidak dikonsumsi mentah, perlu diketahui apakah pencucian dan pemasakan menghilangkan klorin,\u201d ujarnya. (Bow\/Fat\/X-6)<\/p>\n<p>Sumber: Media Indonesia<!--:--><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MEDIA INDONESIA &#8211; BERAS impor yang mengandung zat berbahaya, klorin, diduga tidak hanya berasal dari Vietnam, tetapi juga dari negara lain. Banyak Beras Impor Diduga Berklorin BERAS impor yang mengandung zat berbahaya, klorin, diduga tidak hanya berasal dari Vietnam, tetapi juga dari negara lain. Ketua Umum Kelompok Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir mengungkapkan hal itu,<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":977,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-1904","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aktualita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1904","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1904"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1904\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/media\/977"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1904"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1904"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1904"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}