{"id":1301,"date":"2013-02-26T14:37:35","date_gmt":"2013-02-26T07:37:35","guid":{"rendered":"http:\/\/pertaniansehat.com\/?p=1301"},"modified":"2013-02-26T14:48:48","modified_gmt":"2013-02-26T07:48:48","slug":"tingkatkan-ekspor-pemerintah-serius-tangani-pasca-panen-produk-hortikultura","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/tingkatkan-ekspor-pemerintah-serius-tangani-pasca-panen-produk-hortikultura\/","title":{"rendered":"Tingkatkan Ekspor, Pemerintah Serius Tangani Pasca Panen Produk Hortikultura"},"content":{"rendered":"<p><!--:in-->Tegal \u2013 Pemerintah terus memperbaiki kualitas produk hortikultura Indonesia khususnya peningkatan nilai tambah dan penanganan pasca panen agar bisa bersaing dipasar global. Demikian dikatakan Menteri Pertanian Dr. Ir. Suswono, MMA di Dusun Krajan, Desa Batumirah, Bumijawa, Tegal, Jawa Tengah pada Selasa (19\/2\/2013)<!--:--><!--:en-->Tegal \u2013 Pemerintah terus memperbaikikualitas produk hortikultura Indonesia khususnya peningkatan nilai tambah dan penangananpasca panen agar bisa bersaing dipasar global. Demikian dikatakan Menteri Pertanian Dr. Ir. Suswono, MMA diDusun Krajan, Desa Batumirah, Bumijawa, Tegal, Jawa Tengah pada Selasa (19\/2\/2013)<\/p>\n<p>\u201cKita memiliki produkhortikultura yang berlimpah di kawasan dataran tinggi dan berpotensiuntuk diekspor. Saat ini yang terpenting adalah peningkatan nilai tambah danpenanganan pasca panen agar produk yang dihasilkan lebih diminati pasar,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Mentan optimis, tahun ini Indonesia mampu meningkatkanekspor sayur ke Singapura antara 3 \u2013 4 % mengingat masih banyaknya potensi datarantinggi yang dimiliki. \u201cAsalkan diolah dengan baik mulai dari proses awalpenanaman hingga pasca panen, maka target ekspor dapat tercapai,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Sebagaimana diketahui, produk hortikultura Indonesia saatini menempati 4% dari seluruh impor sayur mayur Singapura. Berdasarkandata, pada tahun 2011 eksporsayur mayur Indonesia mencapai 21.105 ton dari 487.336 ton total impor sayurmayur Singapura. <\/p>\n<p>\u201cProduk sayur \u2013 mayur kita memang sangat bersaing di Singapura, namun tantangannyabagi para petani kita, Singapura itu menerapkan syarat yang ketat terhadapproduk impor yang masuk ke negaranya, untuk itu pemerintah berupaya agar parapetani dapat terus meningkatkan penerapan GoodAgricultural Practices (GAP)\u201d ujar Mentan.  <\/p>\n<p>Terkait dengan penanganan pasca panen produk hortikulturadi Jawa Tengah, Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo mengatakan bahwa saat ini petanisudah melakukan pembudidayaan tanaman menggunakan green-house dan untuk pasca panennya menggunakan coldstorage. \u201cDi singapura, banyak sekaliproduk hortikultura yang berasal dari Jawa Tengah. Hal ini menunjukan produkkita diterima di sana. Oleh karena itu, sekarang kita terusmemperbaiki cara pembudidayaan dan pengolahan pasca panennya. Seperti green house sudah kita terapkan di Tawangmangu danBaturaden dan ternyata hasilnya bagus,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Selain itu, pemerintah provinsi Jawa Tengah juga giatmembina kelompok tani hortikultura. \u201cSaat ini sudah ada beberapa kelompok tani yangmenanam produk hortikultura seperti wortel, meskipun belum sampai diekspornamun produknya sudah masuk pasar modern dan tradisional,\u201d jelas Bibit.<!--:--><!--more--><!--:in--><\/p>\n<p>\u201cKita memiliki produkhortikultura yang berlimpah di kawasan dataran tinggi dan berpotensiuntuk diekspor. Saat ini yang terpenting adalah peningkatan nilai tambah danpenanganan pasca panen agar produk yang dihasilkan lebih diminati pasar,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Mentan optimis, tahun ini Indonesia mampu meningkatkanekspor sayur ke Singapura antara 3 \u2013 4 % mengingat masih banyaknya potensi datarantinggi yang dimiliki. \u201cAsalkan diolah dengan baik mulai dari proses awalpenanaman hingga pasca panen, maka target ekspor dapat tercapai,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Sebagaimana diketahui, produk hortikultura Indonesia saatini menempati 4% dari seluruh impor sayur mayur Singapura. Berdasarkandata, pada tahun 2011 eksporsayur mayur Indonesia mencapai 21.105 ton dari 487.336 ton total impor sayurmayur Singapura.<\/p>\n<p>\u201cProduk sayur \u2013 mayur kita memang sangat bersaing di Singapura, namun tantangannyabagi para petani kita, Singapura itu menerapkan syarat yang ketat terhadapproduk impor yang masuk ke negaranya, untuk itu pemerintah berupaya agar parapetani dapat terus meningkatkan penerapan <em>Good Agricultural Practices<\/em> (GAP)\u201d ujar Mentan.<\/p>\n<p>Terkait dengan penanganan pasca panen produk hortikulturadi Jawa Tengah, Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo mengatakan bahwa saat ini petanisudah melakukan pembudidayaan tanaman menggunakan <em>green-house<\/em> dan untuk pasca panennya menggunakan <em>coldstorage<\/em>. \u201cDi singapura, banyak sekaliproduk hortikultura yang berasal dari Jawa Tengah. Hal ini menunjukan produkkita diterima di sana. Oleh karena itu, sekarang kita terusmemperbaiki cara pembudidayaan dan pengolahan pasca panennya. Seperti green house sudah kita terapkan di Tawangmangu danBaturaden dan ternyata hasilnya bagus,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Selain itu, pemerintah provinsi Jawa Tengah juga giatmembina kelompok tani hortikultura. \u201cSaat ini sudah ada beberapa kelompok tani yangmenanam produk hortikultura seperti wortel, meskipun belum sampai diekspornamun produknya sudah masuk pasar modern dan tradisional,\u201d jelas Bibit.<\/p>\n<p>Sumber: <a href=\"http:\/\/setjen.deptan.go.id\/umum-humas\/detailberita.php?id=371\">Departemen Pertanian<\/a><!--:--><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tegal \u2013 Pemerintah terus memperbaiki kualitas produk hortikultura Indonesia khususnya peningkatan nilai tambah dan penanganan pasca panen agar bisa bersaing dipasar global. Demikian dikatakan Menteri Pertanian Dr. Ir. Suswono, MMA di Dusun Krajan, Desa Batumirah, Bumijawa, Tegal, Jawa Tengah pada Selasa (19\/2\/2013)Tegal \u2013 Pemerintah terus memperbaikikualitas produk hortikultura Indonesia khususnya peningkatan nilai tambah dan penangananpasca<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":360,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[152,3,153,6],"class_list":["post-1301","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aktualita","tag-hortikultura","tag-pertanian-2","tag-pertanian-indonesia","tag-pertanian-sehat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1301","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1301"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1301\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/media\/360"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1301"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1301"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pertaniansehat.com\/v01\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1301"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}