Backbacker ke Sinabung: Wisata Sosial untuk Perubahan

Backbacker ke Sinabung: Wisata Sosial untuk Perubahan

236
0
SHARE

MEDAN – Kisah ringan perjalanan ke Sinabung untuk ketiga kalinya ini sengaja saya angkat untuk memberikan inspirasi bagi siapapun yang cinta dunia travelling dan penikmat wisata sosial. Tulisan saya tentang Gung Pinto pada bulan lalu di www.pertaniansehat.com ternyata telah menginspirasi beberapa anak muda Medan untuk berkunjung ke Desa Gung Pinto. Alhamdulillah.

Dua kali perjalanan sebelumnya ke Sinabung, nyaris tidak ada cerita khusus tentang akses ke lokasi karena bersama tim dan menggunakan mode transportasi pribadi, yakni mobil. Berbeda dengan perjalanan ketiga ini, konsep akses lokasinya adalah dengan model backbacker, mirip pengembara kira-kira begitulah. Alhasil, selepas turun dari pesawat langsung menuju Medan dengan kereta api yang cukup nyaman. Sampai di kota Medan, berusaha mencari angkot menuju pangkalan bus mini ke arah Berastagi, Karo. Angkot itupun didapat dengan rute dari stasiun kereta api Medan ke Padang Bulan, tempat bus mini mangkal. Harga cukup murah, 4 ribu rupiah dengan jarak lumayan jauh. Sesampainya di pangkalan bus mini Padang Bulan, saya langsung naik bus jurusan Berastagi dengan patokan turun di Tugu Kol. Perjalanan dari Medan ke Berastagi cukup jauh, kira-kira dua jam lebih namun dengan ongkos yang relatif murah yakni cukup 10 ribu.

Kira-kira jam 1 siang, saya sampai di Tugu Kol Berastagi. Petani bersama pendamping program sudah menunggu di Berastagi untuk menjemput saya, namun sebelum ke lokasi program kami rehat sejenak sekalian makan siang dan dilanjut coaching materi pendampingan ke fasilitator di kedai makan Berastagi. Sesi coaching cukup lama karena banyak diskusi tentang kelembagaan Pertanian Sehat Indonesia (PSI) dan Dompet Dhuafa serta materi dasar Community Development dan dasar-dasar pendampingan. Setelah selesai pembekalan pendamping dan penandatangan kontrak kerja, perjalanan dilanjutkan dari Berastagi menuju Desa Gung Pinto dengan memakai motor bebek. Udara dingin dari pegunungan Sinabung terasa menusuk, lebih dingin dari kunjungan-kunjungan saya sebelumnya.

Tidak menunggu lama, sesampainya di Gung Pinto langsung ramah tamah dan berkoordinasi dengan beberapa masyarakat. Malam harinyapun telah dipersiapkan oleh para pengurus Paguyuban Maka Mehuli untuk rapat dengan para petani anggota guna membahas teknis implementasi program pertanian. Sedikit muncul kejadian saat saya menjelaskan beberapa hal terkait teknis pelaksanaan program pertanian. Udara dingin yang menusuk di Sinabung dan di perjalanan panjang dari Medan ke Berastagi dengan angkutan umum yang jendelanya terbuka membuat kondisi badan tidak kuat. Muntah pun tidak bisa dihindari, mual dan serasa pusing. Meski demikian karena kebutuhan informasi untuk hal teknis pelaksanaan program harus disampaikan dengan kondisi berlahan-lahan. Misi sosialisasipun berhasil, petani siap bekerjasama dalam mengawal program Sinabung Bangkit Dompet Dhuafa, termasuk melakukan amal swadaya.

Tiga hari selama perjalanan di Sinabung tentu bukan waktu yang lama. Namun karena perjalanan ini bukan sekedar jalan-jalan biasa, maka banyak cerita yang menarik dan tentu inspiratif. Menarik selama di perjalanan dengan angkutan umum khas Karo yaang full dangdut komplo, panas dan berdesak-desakan namun tetap menarik karena kita bisa menikmati. Menarik pula dengan cerita misi perjalanannya yang bertujuan untuk memberikan peran dalam upaya perbaikan ekonomi petani di Sinabung. Semoga bermanfaat kawan! (DIM – 13/06/2014)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

*