Mengendalikan Penyakit Buah Naga

Mengendalikan Penyakit Buah Naga

2062
3
SHARE

Buah naga akhir-akhir ini merupakan bisnis yang banyak dilakukan di berbagai tempat di Indonesia baik di Pulau Jawa maupun Sumatera. Peluang usahatani buah naga membuat keuntungan yang besar membuat banyak pihak untuk terjun dibidang ini. Namun seringkali tidak disadari bahwa usaha tani buah naga juga menghadapi resiko serangan penyakit yang cukup tinggi. Dalam forum ini akan dibahas bagaimana mengelola penyakit-penyakit buah naga secara komprehensif berdasarkan prinsip-prinsip PHT (pengendalian hama terpadu).

Sebelum mengelola penyakit buah naga, perlu dipahami prinsip yang mendasari PHT yaitu segitiga penyakit dan Hukum Liebig. Tanaman sakit harus terpenuhi tiga hal yaitu patogen (penyebab) virulen dan jumlahnya cukup, tanamannya rentan dan lingkungan mendukung. Satu hal saja dari tiga tidak terpenuhi, tidak akan terjadi penyakit tumbuhan, ini yang dikenal dengan teori segitiga penyakit. Hal yang kedua adalah Hukum Liebig, bahwa yang menentukan produktivitas tanaman itu bukan faktor yang paling kuat/melimpah namun faktor yang paling lemah/pembatas, jadi kemampuan mengenali faktor yang paling lemah akan secara nyata meningkatkan produktivitas tanaman.

Berdasarkan pengamatan penulis pada kebun buah naga di berbagai tempat di Jawa dan Sumatera, dan para petani buah naga yang datang ke Klinik Tanaman IPB, terdapat dua jenis penyakit buah naga yang paling penting yaitu penyakit busuk buah/busuk batang . Penyakit busuk buah/batang disebabkan oleh cendawan Macrophoma sp. dan penyakit bercak batang yang disebabkan oleh Phomopsis sp. . Kedua cendawan ini mempunyai sifat-sifat yang hampir sama , masuk dalam ordo dan famili yang sama. Penyakit busuk buah ini menunjukkan gejala busuk pada buah atau batang, sedang penyakit bercak batang menunjukkan gejala bercak-bercak kecil di batang. Kedua penyakit mempunyai sifat bertahan hidup pada sisa-sisa tanaman sakit misalnya potongan batang atau buah yang , tanah. Selain itu khusus untuk Phomopsis, mempunyai tanaman inang yang banyak seperti terong, karet. Penularan jarak jauh bisa melalui bibit, sedangkan antar tanaman melalui melalui percikan air. Curah hujan yang tinggi apalagi disertai suhu yang tinggi memperberat serangan.

Pengendalian:

  1. Mengusahakan agar tanaman buah naga tumbuh secara optimum dengan cara memilih tempat tumbuh yang cocok (tanah tekstur lempung berpasir, draenase baik, curah hujan optimum 1500 mm/tahun dan tersebar merata), optimalisasi pemupukan sesuai dengan tanah setempat.
  2. Meningkatkan ketahanan tanaman buah naga terhadap penyakit dengan optimalisasi pemupuka dan perlakuan PGPR (plant growth promoting rhizobacteria). Kecukupan unsur Kalium dan Kalsium sangat berperan dalam ketahanan tanaman terhadap . Perlakuan PGPR dilakukan dengan cara pencelupan stek bibit sebelum tanam, serta penyiraman. PGPR bisa diperoleh di Klinik Tanaman IPB.
  3. Penyakit ini untuk melakukan infeksi perlu periode kebasahan batang/buah yang cukup lama, minimal 4 jam. Mengusahakan agar permukaan tanaman tidak basah terlalu lama menjadi penting. Seandainya dalam pengairan digunakan irigasi sprinkler, dihindari penyiraman menjelang malam.
  4. Penggunaan mulsa organik (jerami, alang-alang) disekitar tanaman untuk mengurangi percikan air. Rumput-rumputan yang tidak clean weeding, jadi hanya dirapikan juga bisa mengurangi percikan air dari tanah.
  5. Monitoring yang intensif, terutama pada musim hujan. Bila ditemukan busuk buah segera diambil dan dibakar (jangan dibuang sembarangan karena menjadi sumber penyakit). Setelah pengambilan buah terserang baru dilakuan penggunaan fungisida baik fungisida sintetik, botanis maupun hayati/biofungisida. Hal ini dilakukan karena, tanpa pengambilan buah terserang dulu , aplikasi fungisida akan justru menularkan patogen.

Dr. Ir. Suryo Wiyono, MSc.Agr. Alumni Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian IPB (Angkatan 23). Kepala Klinik Tanaman IPB. Peneliti pada Pusat Kajian Hortikultura – IPB

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

*