Program Pengembangan Buah Naga

Program Pengembangan Buah Naga

404
0
SHARE

Tanaman naga mulai dikembangkan di Indonesia sekitar tahun 2000-an yang dikembangkan oleh masyarakat, dan terus berkembang, populer serta banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan penampilan buah naga yang unik, eksotik, rasanya manis dan segar serta memiliki berbagai khasiat bagi kesehatan.

Kebutuhan buah naga Indonesia sebagian besar masi dipenuhi dari impor, antara lain dari Viet Nam, China dan Thailand. Proporsi buah naga impor diperkirakan sekitar 60% dari total kebutuhan buah naga nasional. Melihat potensi pasar buah naga di Indonesia yang sangat besar, pengembangan buah naga di Indonesia sangat prospektif. Sampai saat ini luas areal pengembangan buah naga di Indonesia masih relatif kecil jika dibandingkan dengan potensi pasar yang tersedia, sehingga harga buah naga masih relatif tinggi. Hal ini merupakan peluang bagi pelaku usaha buah-buahan Indonesia untuk mengembangkan buah naga.

Tujuan pengembangan buah naga di Indonesia adalah meningkatkan produksi dan mutu buah naga di dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor buah naga dan meningkatkan pendapatan petani buah naga.

Adapun sasaran pengembangan buah naga adalah terpenuhinya kebutuhan buah naga dalam negeri dan mengurangi impor.

Arah pengembangan buah naga di Indonesia ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan substitusi impor dengan melakukan peningkatan produksi dan peningkatan mutu buah, serta mengembangkan jenis buah naga sesuai dengan permintaan pasar.

Kebijakan pengembangan buah naga di Indonesia dalam rangka peningkatan produksi dan mutu buah dilakukan melalui berbagai kebijakan. Pengembangan kawasan buah naga untuk mewujudkan suatu kawasan kebun buah naga guna mencapai skala ekonomi untuk menuju usaha budidaya yang efisien. Dengan terbentuknya suatu kawasan, maka usaha budidaya akan lebih efisien baik dalam penyediaan sarana produksi, pemasaran produk serta memudahkan dalam pemberdayaan kelembagaan serta pembinaannya.

Pengembangan kawasan buah naga dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang mempengaruhinya seperti aspek agronomi, potensi wilayah, agroklimat,sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta aspek ekonomi.
Pengembangan kawasa buah naga dilakukan melalui dua pendekatan yaitu pengutuhan kawasan yang sudah ada dan pengembangan kawasan baru dengan memperluas areal tanaman.

Dalam pengembangan kawasan untuk menghasilkan produksi yang tinggi serta buah bermutu, salah satu faktor yang menentukan adalah penggunaan benih bermutu. Benih buah naga yang digunakan adalah benih yang berlabel/bersertifikat, sehingga ada jaminan bhwa produk yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan dan sesuai dengan permintaan pasar.

Untuk meningkatkan mutu produk buah naga guna memenuhi permintaan konsumen dilakukan melalui penerapan cara budidaya yang baik dan benar (Good Agricultural Practices/ GAP) yang dijabarkan dengan penerapan Standard Operating Procedure (SOP) spesifik lokasi. Untuk mempertahankan mutu produk buah naga, dilakukan penanganan pascapanen yang baik (Good Handling Practices/GHP)

Untuk memberikan apresiasi dan pengakuan bagi kebun yang telah menerapkan GAP dilakukan registrasi kebun. Pemberian nomor registrasi kebun merupakan jaminan dan bukti bagi petani bahwa mereka telah menerapkan GAP dalam usaha budidayanya, sehingga menghasilkan produk yang aman dikonsumsi.

Kelembagaan petani seperti kelompoktani, gabungan kelompoktani atau asosiasi memegang peranan yang penting dalam memajukan usaha budidaya bagi petani. Dengan terbentuknya kelembagaan tani akan memudahkan dalam pembinaan, memudahkan akses permodalan maupun memudahkan dalam membuka akses pasar. Dengan kelembagaan tani yang kuat, posisi tawar petani meningkat sehingga dalam pemasaran produk tidak dipermainkan oleh tengkulak. Selain itu akan memudahkan dalam menjalin kemitraan yang akan menjamin pasar bagi produk buah yang dihasilkan.

Dalam penerapan cara penerapan budidaya dan penanganan pascapanen yang baik, penyediaan sarana dan prasarana budidaya dan pascapanen merupakan salah satu komponen yang penting dalam usaha budidaya buah naga. Pemilihan dan penggunaan sarana dan prasarana budidaya dan pascapanen yang tepat serta memadai akan menghasikan dan menjaga mutu produk buah naga yang dihasilkan sehingga memiliki harga jual dan daya saing yang tinggi.

Ir. Sukarman. Alumni Jurusan Budidaya Pertanian (Angkatan 20), Fakultas Pertanian IPB. Pegawai Negeri di Kementerian Pertanian.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

*