Saat 5 Juta Petani “Lenyap”, Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Saat 5 Juta Petani “Lenyap”, Apa Yang Harus Kita Lakukan?

236
0
SHARE

Purbalingga- Di tengah ramainya kelangkaan kedelai, mahalnya harga bawang merah dan beberapa komoditas pertanian seperti cabai dan yang lainnya Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data tentang menyusutnya rumah tangga usahatani. Data BPS tersebut merupakan laporan sementara hasil sensus Pertanian tahun 2013. Tidak tanggung-tanggung ada penyusutan rumah tangga usahatani sebesar 5,04 juta dalam kurun sepuluh tahun terakhir ini yang jika dirata-ratakan ada 500.000 penyusutan keluarga petani/tahun sejak tahun 2003 hingga 2013.

Hilang/ berkurangnya petani dalam struktur tenaga kerja sektor pertanian tentu menjadi hal yang mengkhawatirkan, karena secara makro pasti akan berpengaruh pula pada kontribusi pangan dan kebutuhan pertanian lainnya bagi bangsa ini. Akan tetapi tentu kita akan lebih prihatin lagi jika kita bertemu dengan para petani yang hingga saat ini nasib sebagian besar mereka masuk dalam kelompok tidak punya dan termarjinalkan. Dalam diskusi informal di rumah Suparmin di Desa Kedungjati, Kecamatan Bukateja pada hari Selasa (03/09/2013) potret nasib petani tergambarkan dengan jelas, bukan sebatas angka yang kadang menjadi komoditas politik semata tetapi memang realitas yang kita semua patut prihatin dan berupaya menjadi bagian dari solusi atas persoalan mereka.

Suparmin dengan gayanya yang khas menceritakan kondisi pertanian mereka yang saat ini masih hanya untuk kebutuhan sendiri alias subsisten. Upaya untuk menjual hasil petani mereka sudah dilakukan hanya saja itupun kalau kebutuhan untuk rumah tangganya telah terpenuhi. Bagi mereka ketahanan pangan untuk rumah tangga mereka penting untuk diprioritaskan, bukan hanya secara kuantitas tetapi juga secara kualitas. Maka pemahaman mereka dan sedikit keterampilan tentang budidaya pertanian secara ramah lingkungan saat ini mulai diterapkan. Untuk ke depannya produk pertanian ramah lingkungan yang mereka kembangkan dapat diperbesar skalanya untuk masuk dalam pasar yang lebih luas.

Hadir dalam diskusi informal tersebut selain para petani Desa Kedungjati, Saein tokoh petani Bukateja juga Erie Sudewo pendiri Dompet Dhuafa dengan tim Pertanian Sehat Indoneisa. Ketika ditanya oleh Erie Sudewo mengapa mereka tetap bertahan sebagai petani di tengah berbagai persoalan pertanian yang sulit diatasi mereka menjawab bahwa pertanian adalah pekerjaan yang dapat menentramkan mereka. Bahkan menurut suparmin dalam berbagai kesempatan dia selalu “mendoktrin” petani lainnya untuk bertahan sebagai petani dan menggalakan pertanian ramah lingkungan, termasuk kepada anak-anaknya.

Kehilangan 5 juta petani dalam kurung sepuluh tahun terakhir memang menyedihkan dan harus disikapi secara serius. Di sisi lain masih ada petani seperti Suparmin yang patut kita banggakan dan tentu jangan dibiarkan mereka berakhir sebagai mantan petani kerena sector pertanian kurang menjanjikan. Sungguh semangat Suparmin patut kita apresiasi, bukan hanya tugas mengembalikan 5 juta petani yang lenyap untuk kembali ke sawah namun juga perlu mengorbitkan para petani sekelas suparmin, niscaya pertanian kita akan maju dan berkembang lagi. Tentu tugas berat bagi kita untuk berupaya memajukan pertanian kita dengan berbagai program menarik dan kreatif sehingga diminati oleh masyarakat khususnya para pemuda tani sehingga mereka mau terjun dalam sektor pertanian ini. (dim).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

*