Hama dan Penyakit Penting pada Tanaman Pepaya (Bagian 1)

Hama dan Penyakit Penting pada Tanaman Pepaya (Bagian 1)

1292
4
SHARE

Oleh Dr. Ir. YAYI MUNARA KUSUMAH MSc.
Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB

Pepaya merupakan tanaman yang banyak digemari di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (2010), produksi pepaya selama lima tahun terakhir ini termasuk dalam kelompok tiga besar produksi buah-buahan setelah mangga dan jeruk. Selama perkembangannya, pepaya dapat mengalami serangan hama dan pathogen yang dapat menyebabkan kerugian.

HAMA PENTING PADA TANAMAN PEPAYA

1. Kutu perisai (Aspidiotus destructor)

Serangga ini mengisap cairan daun yang menyebabkan timbulnya nekrosis pada bagian yang dihisap. Pada tingkat serangan berat, permukaan bawah daun dapat penuh tertutup lapisan seperti sisik. Pada permukaan atas daun terdapat bercak-bercak kuning. Serangan serangga ini menyebabkan daun menjadi kering dan rontok.

Kutu betina serangga ini berbentuk bulat, pipih, berwarna putih sampai abu-abu transparan dengan garis tengah kurang lebih 1.8. mm. Serangga jantan berbentuk oval dengan ukuran lebih kecil daripada serangga betina.

Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami dari kelompok predator seperti Chilocorus sp., Azya trinitasi, Cryptognatha nodiceps, Lindorus lophanthas., dan Pentilia castanae. Parasitoid yang dapat dimanfaatkan, antara lain Comperiella sp., Aphytis sp., dan Aspidiotiphagus sp. Konservasi serangga musuh alami ini penting dilakukan agar populasinya cukup tinggi untuk menekan populasi serangga hama. Penggunaan insektisida dilakukan hanya jika diperlukan saja.

2. Kutu dompolan (Planococcus citri)

Tanaman yang terserang hama ini mengalami gangguan pertumbuhan karena hama ini mengisap cairan buah, daun atau bagian lain pada tempat mereka berada. Bagian tanaman yang terserang dipenuhi massa putih seperti lilin yang bertepung. Kutu ini memproduksi embun madu yang dapat menjadi media pertumbuhan embun jelaga yang menyebabkan jaringan papaya diliputi lapisan berwarna hitam seperti jelaga.

Hama ini hidup berkelompok pada batang, daun, bunga sampai buah. Serangan dewasa berbentuk oval, pipih, berwarna kuning kecoklatan, kuning muda atau kuning tua. Kutu ini berukuran panjang 3 – 4 mm dengan lebar 1.5 – 2 mm, tubuhnya diliputi massa putih seperti lilin yang bertepung.

Pada musim kemarau, populasi kutu meningkat, terutama bila kelembaban relatif pada siang hari di bawah 75%. Penyebaran kutu dibantu oleh angin, hujan dan semut.

Hama ini dapat dikendalikan dengan sanitasi lingkungan dari gulma dan inang alternatif. Musuh alami dapat pula dimanfaatkan untuk mengendalikan hama ini, seperti predator dari family Coccinellidae dan Cecidomydae. Cendawan entomopatgen Empousa fresenii juga berpotensi dalam menekan populasi kutu dompolan ini.

3. Tungau merah (Tetranychus cinnabarrinus, T, bimaculatus, T. telarius dan T. cucurbitacearum)

Tungau sangat cepat berkembang biak dan dalam waktu singkat dapat menyebabkan kerusakan yang berat. Bagian tanaman yang diserang antara lain tangkai, daun dan buah. Tangkai yang diserang akan berwarna seperti perunggu. Pada permukaan atas daun terdapat bercak berwarna kuning atau coklat yang dapat meluas dan menyebabkan seluruh daun menjadi kuning yang kemudian menjadi merah karat. Apabila daun dibalik, pada permukaan bawahnya terlihat anyaman benang halus yang merupakan tempat tinggal hama imi. Serangan berat hama ini dapat menyebabkan daun gugur. Serangan pada buah menyebabkan terjadinya bercak-bercak kecil. Kesegaran dan ukuran buah berkurang.
Beberapa tungau predator dan cendawan pathogen serangga dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan hama ini.

4. Kutu putih papaya (Paracoccus marginatus)

Kutu putih papaya Paracoccus marginatus adalah hama polifag dan paling banyak menimbulkan kerusakan pada tanaman papaya. Populasi kutu putih, apabila tidak dikendalikan, dapat menurunkan hasil panen hingga 58%, dan biaya produksi meningkat 84%. Peningkatan biaya produksi terjadi karena meningkatnya penggunaan insektisida untuk mengendalikan populasi serangga ini.

Koloni kutu putih bisanya ditemukan di permukaan bawah daun dan terdapat di sekitar tulang daun. Kutu putih merusak tanaman inang dengan cara mengisap cairan tanaman sehingga daun berkerut, dan jika serangannya berat menyebabkan daun menjadi kuning, kering, dan akhirnya gugur.

Selain menyebabkan kerusakan langsung pada bagian tanaman yang dihisap, kutu ini juga mengasilkan embun madu yang dapat memicu tumbuhnya cendawan embun jelaga. Embun jelaga yang tumbuh menetupi permukaan daun dapat menyebabkan terganggunya proses fotosintesis.

Kutu putih papaya memiliki musuh alami berupa predator, parasitoid dan cendwan pathogen serangga.

Bersambung…

Sumber :  Workshop IKA Faperta IPB

4 COMMENTS

    • Dalam tulisan disebutkan bahwa hama tsb disebabkan Tungau merah (Tetranychus cinnabarrinus, T, bimaculatus, T. telarius dan T. cucurbitacearum). Dengan tungau predator dan cendawan pathogen serangga dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan hama ini.

LEAVE A REPLY

*