Penerapan Teknologi Pertanian Perlu

Penerapan Teknologi Pertanian Perlu

1434
2
SHARE

Pemilihan metode penyuluhan di lapangan yang tepat dalam menyampaikan teknologi kepada petani sangat penting. Salah satunya metode demontrasi plot (demplot). Teknologi merupakan suatu cara ataupun sarana yang diciptakan manusia untuk memenuhi kepuasannya.  Dalam penerapan teknologi pertanian misalnya, petani akan merasa puas dan bangga jika tanamannya berhasil dipanen sesuai harapan. Dengan demplot diperlihatkan secara nyata tentang cara serta hasil dari penerapan teknologi pertanian yang telah terbukti bermanfaat bagi petani.

Pertanian Sehat Indonesia (PSI) melaksanakan demplot di setiap Klaster Program Pemberdayaan yang ditanganinya. Dalam demplot tersebut, PSI mencoba memperkenalkan cara bertanam padi secara sehat. Pertanian yang mengacu pada sistem pertanian berkelanjutan.

Dengan bertani secara sehat diharapkan kesuburan dan kesehatan lahan semakin meningkat. Musuh alami hama dan penyakit tanaman semakin banyak sehingga hama dan penyakit semakin berkurang. Biaya produksi berkurang dengan pemanfaatan bahan baku lokal. Sehingga usaha bertani tidak hanya saat ini tapi akan berlanjut terus ke anak cucu mereka, karena lahan yang diwariskan merupakan lahan yang subur dan produktif.

Paket teknologi pertanian yang diterapkan dalam demplot ini merupakan teknologi yang berupaya mewujudkan sistem pertanian yang berwawasan ekonomis, ekologis, dan berkelanjutan (sustainable agriculture). Teknologi yang diterapkan tersebut adalah :

  • Pemberian pupuk organik sebagai pupuk dasar (pembenah tanah) dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan dan mempertahankan kualitas tanah.
  • Sistem tanam jajar legowo, yaitu sistem tanam berselang-seling dua baris, dan satu baris dikosongkan. Sistem jajar legowo yang diterapkan adalah jajar legowo 2:1.
  • Penanaman bibit muda. Biasanya petani menanam bibit berumur di atas 20 hari. Bibit yang ditanam pada demplot ini berumur 15 hari. Hal ini dimaksudkan agar bibit cepat pulih, perakaran lebih kuat, tahan rebah, tahan kekeringan, dan penyerapan pupuk lebih efisien.
  • Menanam bibit tidak terlalu banyak (1-3 tanaman per lubang). Petani biasanya menanam lebih dari 5 tanaman per lubang. Dengan menanam bibit yang sedikit persaingan mendapatkan hara akan berkurang, sehingga perbanyakan rumpun akan semakin cepat dan banyak. Pada saat demplot dilaksanakan, sedang banyak serangan hama keong emas sehingga bibit yang ditanam berjumlah 3 tanaman.
  • Pemupukan dilakukan ecara berimbang mengacu pada hasuil pengukuran/uji dengan menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Hal ini dilakukan agar pemupukan yang dilakukan sesuai kebutuhan, tidak berlebih. Pupuk sintetis masih sangat dibutuhkan karena pupuk ini merupakan penyuplai hara utama. Pupuk sintetis menurut beberapa pakar pertanian tidak berbahaya bagi kesehatan. Dampak negatifnya bagi lahan dapat diimbangi dengan penggunaan pupuk organik (pembenah tanah). Pupuk pelengkap cair yang diberikan adalah pupuk organik cair (POC) dari daun gamal (Glyricida sepium) dan rendaman sabut kelapa (POC Kalium).
  • Pengendalian hama dan penyakit tanaman ditekankan pada penggunaan bahan-bahan yang tidak membahayakan bagi individu, masyarakat, dan lingkungannya. [hus]

Teknologi merupakan penerapan dari ilmu pengetahuan.  Dalam dunia pertanian, sudah cukup banyak teknologi yang bisa diterapkan untuk mengatasi berbagai masalah dibidang pertanian. Baik itu teknologi yang dihasilkan oleh berbagai lembaga penelitian, maupun teknologi turun temurun yng sudah menjadi kearifan lokal.  Tetapi sayangnya, pemanfaatan teknologi-teknologi tersebut masih tergolong kurang.  Hal ini dimungkinkan karena informasi tentang teknologi tersebut belum sampai kepada mereka, atau mereka masih meragukan akan manfaat teknologi tersebut.  Mereka khawatir akan gagal panen jika menerapkan cara baru yang baru mereka kenal.

Petani memerlukan contoh yang nyata dari kegiatan budidaya. Oleh karena itu, demontrasi plot (demplot) sangat diperlukan untuk dilakukan.  Demplot merupakan suatu metode penyuluhan di lapangan yang cukup tepat untuk memperlihatkan secara nyata tentang cara serta hasil dari penerapan teknologi pertanian yang telah terbukti bermanfaat bagi petani. Hal itu pulalah yang menjadi tujuan PSI (Pertanian Sehat Indonesia) melaksanakan demplot di Klaster Program Pemberdayaan Desa Mandiri Pematang Baru.

Produktivitas sawah per musim di desa ini masih tergolong rendah. Rata-rata hasil padi per hektar per musim tanam sekitar 4 – 5 ton.  Hasil seperti ini sudah berlangsung lama malah cenderung menurun.  Penyebab produktivitas padi di daerah ini sulit meningkat bisa jadi karena petani tidak mempunyai keberanian dan pengetahuan untuk mengusahakan dengan cara baru. Mereka masih bertani dengan cara konvensional yang menyebabkan produktivitas lahan semakin menurun. Hampir semua petani di desa ini menganggap bahwa padi hanya memerlukan pupuk urea bahkan beranggapan jika pupuk ureanya banyak hasilnya akan tinggi. Mereka belum paham bahwa tanaman padi sebagaimana halnya dengan tanaman lain juga memerlukan unsur hara lainnya dan karenanya memerlukan pemupukan yang seimbang. Pupuk organik dianggap tidak diperlukan. Padahal pupuk organik sangat bermanfaat baik untuk kesuburan tanah maupun untuk pertumbuhan dan hasil tanaman serta berpengaruh positif bagi perbaikan ekologi.  Jadi sangat beralasan jika produktivitas sawah di daerah ini menjadi statis dan rendah. Demikian juga dalam hal pengendalian hama dan penyakit, mereka masih sangat mengandalkan pestisida kimia sintetis.

Oleh karena itu, PSI mencoba memperkenalkan cara bertanam padi secara sehat.  Bertani secara sehat merupakan suatu cara bertani yang mengacu pada sistem pertanian berkelanjutan.  Dengan bertani secara sehat diharapkan kesuburan dan kesehatan lahan semakin meningkat, keseimbangan ekosistem serangga bisa terjaga dengan baik, biaya produksi berkurang dengan pemanfaatan bahan baku lokal.  Dengan demikian, usaha bertani tidak hanya untuk saat ini saja tapi akan berlanjut terus ke anak cucu mereka karena lahan yang diwariskan merupakan lahan yang subur dan produktif.

Demplot dimulai pada 19 Februari bulan 2012 dengan luasan lahan ± 6.000 m2.  Lokasi demplot berada disuatu hamparan ± 15 ha yang dikelilingi sawah para petani. Varietas padi yang ditanam yaitu varietas Mekongga.  Varietas ini merupakan varietas baru bagi petani di desa ini.  Biasanya mereka menanam varietas Muncul (Cilamaya Muncul).  Teknologi pertanian yang diterapkan dalam demplot ini memang belum semua diterapkan.  Pemberian pupuk organik sebagai pupuk dasar (pembenah tanah) belum dilakukan karena belum tersedia. Rencana demplot tersebut akan dipanen pada tanggal 8 Juni 2012. [hus]

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

*