SCOPI Task Forces Program Development

SCOPI Task Forces Program Development

283
0
SHARE
Scopi Task Force Program Development
Scopi Task Force Program Development

Jakarta – SCOPI (Sustainable Coffee Platform of Indonesia) mengajak para produsen dan petani kopi dari berbagai daerah untuk pameran dan bertemu langsung dengan buyer dari berbagai negara pada even Sustainable Coffee for Prosperity, Health & Beauty di Jiexpo Hall C3-Kemayoran, Rabu (21/10).

Selain pameran, SCOPI juga menyelenggarakan diskusi berbagai hal mengenai kopi.  Pada hari pertama, tema yang dibahas masih bersifat umum yaitu mengenai pengembangan program yang akan menjadi fokus dari SCOPI.  Narasumber selain dari SCOPI, juga ada dari Kementrian Perindustrian dan Perdagangan, HAKI, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Provinsi Lampung, dan lain-lain.  Peserta diskusi dari produsen kopi baik petani, kelompok tani atau produsen pasca panennya.

Fokus aktivitas SCOPI meningkatkan kesejahteraan petani kopi melalui peningkatan kualitas kopi yang dihasilkan petani.  Untuk mencapai tahap tersebut dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak tidak hanya petani.  Pada diskusi ini SCOPI juga mengajak berbagai pihak baik dari swasta dan pemerintah untuk dapat bersama-sama meningkatkan kualitas kopi Indonesia sehingga meningkatkan kesejahteraan petani kopi.

Kementrian Perindustrian dan Perdagangan melalui Direktur Minuman dan Tembakau, menyampaikan program dari kementrian terutama yang menyangkut kopi dan hasil turunannya.  Selain sudah merencanakan berbagai program pada 5 tahun kedua, anggarannya untuk lebih fokus memajukan produk kopi dan turunannya.  Pada tahun-tahun ini bentuk program yang masih bisa didukung berkaitan dengan bantuan alat pasca panen bagi kelompok tani.  Pengajuan bantuan alat dapat diakses melalui dinas di daerah masing-masing.

Selanjutnya disampaikan aturan dan SOP untuk industri kopi dan turunannya.  Meskipun syarat SNI untuk sementara masih terbatas pada industri kopi instan, tetapi tidak menutup kemungkinan pasar juga menuntut hal yang sama untuk kopi roasting dan kopi bubuk. Sebaiknya para petani dan produsen sudah mulai menyiapkan diri.

Pada sesi diskusi beberapa masukan dari kelompok tani dari Aceh.  Hasil uji dan sertifikasi terhadap cita rasa kopi yang menghasilkan kriteria kopi premium seharusnya fee dari penjualan kopi premium tersebut petani juga ikut menikmatinya, jangan hanya para pedagang saja.  Sehingga diharapkan petani juga semakin bersemangat untuk menjaga agar kualitas kopinya tetap stabil.

Petani dari Bandung mengharapkan agar ada wadah yang mampu melindungi mereka untuk membantu pemasaran kopinya.  Saat ini mereka masih sering kebingungan untuk menjual kopinya, posisi tawar mereka masih rendah padahal dari hasil uji sudah meghasilkan kopi dengan nilai yang tinggi.  Selain itu kondisi cuaca terutama pada saat musim penghujan juga sangat berpengaruh terhadap kualitas kopi, sehingga pada musim tersebut petani sangat merugi karena pedagang enggan membeli.  Bantuan mesin pengering sangat diharapkan.  Pihak kementrian menyampaikan hal tersebut dapat diajukan kepada Dinas Perindustrian melalui ajuan proposal kelompok tani.

Pada sesi kedua pemaparan materi dilakukan oleh HAKI dan Dinas Perkebunan dan Kehutanan Provinsi Lampung.  Di Lampung petani kopi sudah berkelompok, tetapi seringkali ketua kelompok ataupun para pengurusnya masih rangkap jabatan dengan pekerjaan lain sehingga tidak fokus untuk memajukan para petani.  Diharapkan petani secara sukarela untuk bergabung dalam kelompok-kelompok, jangan mengharapkan bantuan saja ketika bergabung dalam kelompok.  Karena dengan berkelompok banyak kemudahan yang akan diperoleh oleh petani.

Pihak HAKI menyampaikan keunggulan kopi Indonesia yang dapat ditelusuri melalui indikasi geografisnya.  Beberapa wilayah di Indonesia sudah sangat dikenal oleh para penggemar kopi dunia dapat menghasilkan citarasa kopi yang sangat spesifik.  HAKI sangat mendukung apabila kelompok tani dari wilayah yang spesifik mengusulkan kopinya untuk memperoleh nilai indikasi geografis yang spesifik.

Pada akhirnya Indonesia sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di dunia masih perlu kerja keras dari berbagai pihak, tidak hanya petani.  Sehingga penikmat kopi tahu asal kopi tersebut ditanam tidak hanya dari mereknya tapi juga aroma dan citarasanya. Diharapkan bukan hanya pedagang saja yang dapat menikmati keuntungan dari perdagangan kopi, tetapi juga petani dan keluarganya. [kus]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

*