Menengok eksotisme wisata pertanian tradisional yang tak luntur ditelan zaman

Menengok eksotisme wisata pertanian tradisional yang tak luntur ditelan zaman

171
0
SHARE

Sukabumi – Nemol, maringgeui, raja denok, randa kaya, rumbai putih, dan masih banyak lagi. Terasa asing ditelinga kita, jika dibandingkan dengan
IR 64, Sintanur, Inpari, Ciherang, yang sebaliknya sudah cukup familiar terutama bagi petani padi kita.

Ya, begitu dahsyatnya mindset yang ditancapkan pemerintah dalam program revolusi hijau lebih dari tiga dekade lalu. Sampai kita sendiri lupa akan kekayaan keanekaragaman hayati yang kita miliki, tidak terkecuali pada tanaman padi.

Adalah sebuah antusiasme yang terlihat begitu besar, dari tiap peserta Care Visit Dompet Dhuafa, saat mengikuti rangkaian Kegiatan Agrowisata di Kasepuhan Sinar Resmi, Cisolok, Sukabumi. Rasa lelah yang menghampiri karena jalan kaki tidak kurang tiga kilometer, seperti tidak terlihat di wajah peserta. Di tengah perjalananan tidak jarang peserta disibukan dengan  kamera saku, DSLR masing-masing. Untuk mengabadikan tiap momen dan pemandangan yang hampir dapat dipastikan tidak akan didapati di kota tempat tinggal mereka.

Susunan lantaian (pengeringan padi tradisioal, penj) dengan beraneka jenis padi lokal yang menunjukan penampakan berbeda, semakin menambah decak kagum peserta. Saung-saung lesung (tempat menumbuk padi, penj) seakan menarik nostalgia beberapa peserta senior.

Kecerian semakin merekah di wajah peserta tatkala masing-masing dipersilahkan untuk memanen jenis padi lokal di lokasi bank benih (konservasi in situ benih lokal, penj). Beberapa dari peserta nampak kaku ketika memanen padi dengan menggunakan ani-ani, beberapa yang lain fokus memperhatikan teknik panen yang disampaikan oleh Purnama, pendamping Program Agrobudaya.

Kegiatan diakhiri dengan makan bersama dan diskusi interaktif. Penjelasan tahapan
budidaya dan pengenalan jenis-jenis padi lokal, yang disampaikan Purnama  semakin menjawab rasa penasaran peserta atas apa yang mereka saksikan dan praktikan sebelumnya. Lebih dari 32 jenis padi lokal, telah berhasil diklasifikasi morfologi benihnya, klasifikasi yang mengacu pada ketentuan pusat perlindungan varietas tanaman, Deptan tahun 2006. Memberikan penjelasan yang lebih meyakinkan kepada peserta dari sisi pertanggung jawaban ilmiah. [Ade]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

*