Saatnya Melirik Sayuran dan Buah Organik

Saatnya Melirik Sayuran dan Buah Organik

261
0
SHARE

MEDIA INDONESIA – MASYARAKAT tengah digemparkan kabar beredarnya apel jenis granny smith dan gala impor asal Amerika Serikat (AS) yang diduga terkontaminasi oleh bakteri Listeria moncytogenes. Ahli mikrobiologi menyebut infeksi bakteri itu bisa menimbulkan sakit perncernaan, bahkan kematian.

Memang, menjadi rahasia umum buah impor jauh lebih murah ketimbang buah lokal.

Namun, jika melihat konsekuensi menakutkan dari mengonsumsi produk pangan murah tapi membahayakan kesehatan, sudah saatnya konsumen melirik produk sayur-sayuran dan buah organik.

Makanan organik selalu dikatakan sebagai makanan mahal. Hal itu diakui peneliti gizi senior pada Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan BangsaBangsa Brian Thomson.

Menurutnya, kualitas hasil panen yang tidak selalu bagus dan uji lab untuk membuktikan makanan tersebut bukan produk transgenik atau genetically modified organism (GMO) akan menambah biaya dan pada akhirnya akan menaikkan harga jual.

Namun, akan lain hasilnya jika produksi pangan organik yang saat ini kurang dari 10% beredar di pasaran diperbanyak.

Seiring dengan makin banyak orang membeli produk itu, harganya otomatis turun. “Semakin banyak yang bertumbuh, makin memperkecil harga satuannya dan dengan ini konsumen bisa berhemat,” papar Thomson.

Seorang koki bernama Karpathios menyarankan untuk menanam sayuran organik sendiri di taman, balkon, atau dalam jendela rumah. Selada, wortel, dan kacang-kacangan bisa dijadikan pilihan. “Satu meter persegi tanah dapat ditumbuhi dua jenis sayuran berbeda. Itu cukup untuk memberi makan empat anggota keluarga dalam satu tahun,” katanya.

Di AS dan beberapa negara lainnya, produk organik juga semakin berkembang pesat di pasaran. Biaya pengiriman untuk produk segar, seperti buah-buahan dan daging segar biasanya berada pada kisaran US$18 US$25 (sekitar Rp227.000Rp315.000) per minggu.

Jika makanan organik tersebut tidak habis laku di pasaran, akan dijual kepada masyarakat kecil dengan harga US$6 (Rp75.700) per kantong makanan untuk kebutuhan satu minggu.

AS dan Belanda juga punya cara unik lainnya untuk menanamkan keinginan produksi makanan organik sendiri kepada masyarakat.
Pemerintah menyebarkan resep makanan dari bahanbahan organik di depan rumah penduduk.

Di samping itu, pemerintah Belanda tengah gencar mempromosikan hidup sehat dan murah dengan membuka layanan panduan cara mengurangi biaya konsumsi sehari-hari.

Pendiri supermarket khusus produk organik di Belanda, Marqt, Quirijn Bolle mengatakan masyarakat di negaranegara Mediterania menghabiskan 25% penghasilan mereka untuk biaya makanan.
Sementara itu, penduduk Belanda hanya menghabiskan 13% dari penghasilan mereka. (BBC/ Jessica Sihite/E-6)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

*