Budidaya pepaya menjanjikan, tapi apa tantangannya?

Budidaya pepaya menjanjikan, tapi apa tantangannya?

641
3
SHARE
Mitra Tani Subang - Pertanian Sehat Indonesia

Jakarta (ANTARA News) – Budidaya pepaya sangat menjanjikan dan menguntungkan namun muncul tantangan baru yang perlu diperhatikan.

“Di berbagai lokasi, bisnis pepaya terbukti meningkatkan pendapatan petani,” kata Dekan Fakultas Pertanian IPB Ernan Rustiadi, Senin, saat menyampaikan sambutannya pada lokakarya “All About Pepaya” yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Pertanian IPB secara online (melalui facebook)

Sebagai contoh, petani di Banjar yang menanam pepaya di lahan seluas 2.500 m2 bisa panen 600 kg pepaya/minggu. Jika harga jualnya Rp 3.000/kg saja, maka bisa didapatkan penghasilan Rp 1.800.000 per minggu atau Rp 7.200.000 per bulan.

Volume dan nilai ekspor pepaya juga selalu meningkat, katanya.

Ernan mengatakan pepaya adalah buah yang sangat populer mulai di meja makan keluarga hingga hotel mewah karena tergolong buah yang tak kenal musim dan harganya relatif terjangkau. Pasar pepaya tumbuh makin bergairah dengan bertambahnya keragam jenis pepaya.

Namun Ernan mengatakan keberhasilan selalu diiringi tantangan baru. Kegairahan produksi dapat memunculkan “over production” atau produksi yang berlebihan.

“Penyakit baru di lapangan mulai bermunculan, seperti busuk bakteri Erwinia maltovora. Perlu dicari teknologi pengendalian patogen ini, atau bahkan dengan menciptakan varietas baru yang resisten penyakit ini,” katanya.

Selain itu, lanjut Ernan, distribusi dan pasar juga sering jadi persoalan. Rendahnya efisiensi sistem logistik nasional merupakan tantangan penting dalam meningkatkan daya saing buah-buahan nusantara.

Diperlukan berbagai infrastruktur dan regulasi yang mendukung sisi hilir agribisnis pepaya.

Mengenai peran IPB dalam pengembangan pepaya, Ernan mengatakan staf-staf Faperta IPB telah melakukan penelitian pepaya terintegrasi, mulai dari teknologi perbenihan, teknologi budidaya, pemupukan, PHT (Pengendalian Hama Terpadu) hingga pasca panen.

Bentuk paling nyata adalah hadirnya pepaya “Calina” (di pasar dikenal sebagai pepaya “California”) yang dilepas oleh Prof. Sriani Sujiprihati (almh), staf pengajar dari Bagian Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman, Departeman Agronomi dan Hortikultura, Faperta IPB,kata Ernan..

Lokakarya tersebut berlangsung 1-30 April 2013.

Editor: Ruslan Burhani
Sumber: AntaraNews

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

*