Pangan Dunia Masih Prihatin

Pangan Dunia Masih Prihatin

229
0
SHARE

Peringatan Hari Pangan Sedunia 2012 seperti kisah lain dari kondisi yang terjadi dibumi ini. Hajatan besar nampaknya belum pantas dilakukan dimanapun.

Peringatan Hari Pangan Sedunia 2012 seperti kisah lain dari kondisi yang terjadi dibumi ini. Hajatan besar nampaknya belum pantas dilakukan dimanapun. Sebab kondisi pangan dunia masih tidak baik dan perlu kerja keras untuk memperbaikinya. Bahkan PPB menyatakan perang terhadap kelaparan. Sebagai organisasi pangan dunia, FAO (Food and Agriculture Organization) menyatakan bahwa 870 juta orang dari seluruh dunia menderita kekurangan gizi kronis alias kelaparan. “Satu dari delapan orang diseluruh dunia masih kelaparan,” jelas FAO seperti dikutip AFP, Selasa (9/10/2012).

Ketimpangan kondisi ekonomi dan status sosial negara-negara ketiga sedemikian parah. Terutama hal ini terjadi di Asia Timur dan Afrika. Hingga pemenuhan kebutuhan pangan sebagai dasar untuk hidup saja mereka tidak mampu mengatasinya. Kepedulian negara-negara maju seakan sudah pudar bersamaan dengan aktivitas rutin seperti berebut kekuasaan dengan permainan politiknya, berebut kekayaan dengan permainan sahamnya dan lain sebagainya.

Menurut Pengamat Ekonomi Syariah Dr Arim Nasim, SE, MSi yang menyatakan bahwa “Kelaparan ini bukan disebabkan tidak tersedianya sumber daya alam tapi dikarenakan 80 persen kekayaan dunia dikuasai oleh 20 persen manusia,”. Argumen ini dikutip dari hasil penelitian seorang ekonom Italia Vilfredo Pareto. (Sumber mediaumat.com).

Ia menegaskan bahwa ketimpangan ini terjadi karena liberalisasi ekonomi yang lahir dari sistem ekonomi kapitalise dan politik kapitalisme yang fokus pada produksi kekayaan tapi mengabaikan sistem distribusi atau pemerataan. Sehingga barang-barang yang sejatinya milik umum, seperti sumber daya alam yang hasilnya berlimpah misalnya, dikuasai dan dimonopoli oleh sebagian orang atau para kapitalis.

Agar Indonesia mampu bicara dikancah dunia dalam penyelamatan kedaulatan pangan atau sekedar ketahanan pangan, maka perlu kiranya membangun dirinya menjadi bagian dari pembangunan dunia. Potensi yang bisa dikembangkan di Indonesia sangat memungkinkan. Indonesia tidak boleh hanya bangga mampu mencapai swasembada pangan dalam negeri. Pertanian Indonesia harus menjadi bagian dari membangun sistem pengadaan pangan bagi negara-negara lain yang membutuhkan.

Hal ini tentu tidak mudah. Apalagi melihat perkembangan bidang pertanian Indonesia yang sedang digilas kemajuan industrialisasi. Perlu peran aktif pihak yang mampu mengatur pembagian wilayah pengembangan usaha dan prioritas pembangunan pertanian tentunya. Bangsa Indonesia tidak boleh kaya sendiri dengan mengabaikan kehidupan orang lain atau bangsa lain. Membantu mencukupi kebutuhan pangan bangsa lain juga merupakan bagian dari rasa syukur kan?

Semoga pembangunan pertanian Indonesia juga untuk membangun posisi Indonesia dimata dunia. Indonesia merupakan lumbung pangan dunia. Segenap pihak bahu-membahu dan memberikan prioritas terhadap pembangunan kedaulatan pangan serta selalu berkomitmen membangun pertanian Indonesia. [JO]

Sebab kondisi pangan dunia masih tidak baik dan perlu kerja keras untuk memperbaikinya. Bahkan PPB menyatakan perang terhadap kelaparan. Sebagai organisasi pangan dunia, FAO (Food and Agriculture Organization) menyatakan bahwa 870 juta orang dari seluruh dunia menderita kekurangan gizi kronis alias kelaparan. “Satu dari delapan orang diseluruh dunia masih kelaparan,” jelas FAO seperti dikutip AFP, Selasa (9/10/2012).

Ketimpangan kondisi ekonomi dan status sosial negara-negara ketiga sedemikian parah. Terutama hal ini terjadi di Asia Timur dan Afrika. Hingga pemenuhan kebutuhan pangan sebagai dasar untuk hidup saja mereka tidak mampu mengatasinya. Kepedulian negara-negara maju seakan sudah pudar bersamaan dengan aktivitas rutin seperti berebut kekuasaan dengan permainan politiknya, berebut kekayaan dengan permainan sahamnya dan lain sebagainya.

Menurut Pengamat Ekonomi Syariah Dr Arim Nasim, SE, MSi yang menyatakan bahwa “Kelaparan ini bukan disebabkan tidak tersedianya sumber daya alam tapi dikarenakan 80 persen kekayaan dunia dikuasai oleh 20 persen manusia,”. Argumen ini dikutip dari hasil penelitian seorang ekonom Italia Vilfredo Pareto. (Sumber mediaumat.com).

Ia menegaskan bahwa ketimpangan ini terjadi karena liberalisasi ekonomi yang lahir dari sistem ekonomi kapitalise dan politik kapitalisme yang fokus pada produksi kekayaan tapi mengabaikan sistem distribusi atau pemerataan. Sehingga barang-barang yang sejatinya milik umum, seperti sumber daya alam yang hasilnya berlimpah misalnya, dikuasai dan dimonopoli oleh sebagian orang atau para kapitalis.

Agar Indonesia mampu bicara dikancah dunia dalam penyelamatan kedaulatan pangan atau sekedar ketahanan pangan, maka perlu kiranya membangun dirinya menjadi bagian dari pembangunan dunia. Potensi yang bisa dikembangkan di Indonesia sangat memungkinkan. Indonesia tidak boleh hanya bangga mampu mencapai swasembada pangan dalam negeri. Pertanian Indonesia harus menjadi bagian dari membangun sistem pengadaan pangan bagi negara-negara lain yang membutuhkan.

Hal ini tentu tidak mudah. Apalagi melihat perkembangan bidang pertanian Indonesia yang sedang digilas kemajuan industrialisasi. Perlu peran aktif pihak yang mampu mengatur pembagian wilayah pengembangan usaha dan prioritas pembangunan pertanian tentunya. Bangsa Indonesia tidak boleh kaya sendiri dengan mengabaikan kehidupan orang lain atau bangsa lain. Membantu mencukupi kebutuhan pangan bangsa lain juga merupakan bagian dari rasa syukur kan?

Semoga pembangunan pertanian Indonesia juga untuk membangun posisi Indonesia dimata dunia. Indonesia merupakan lumbung pangan dunia. Segenap pihak bahu-membahu dan memberikan prioritas terhadap pembangunan kedaulatan pangan serta selalu berkomitmen membangun pertanian Indonesia. [JO]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

*