Kami Tak Lagi Membakar Jerami

Kami Tak Lagi Membakar Jerami

286
0
SHARE

Jika kita memperhatikan masa panen raya di daerah lumbung-lumbung padi, maka lahan pertanian yang mengering akan bertambah gersang dengan banyaknya asap yang mengepul. Para petani yang akan kembali menanami lahan pertaniannya, sedang membakar tumpukan jerami. Ya, di sebagian besar wilayah, jerami sisa panen yang menumpuk di lahan pertanian masih dianggap sebagai hal yang mengganggu. Cara mudah untuk menghilangkannya adalah dengan dibakar.

Namun, keadaan yang kontras akan ditemui di wilayah-wilayah yang menjadi klaster binaan Pertanian Sehat Indonesia (PSI). Akan sangat jarang ditemui, jerami-jerami kering teronggok tak termanfaatkan. Sulit ditemukan lagi kepulan asap yang membumbung tinggi. Sebagai gantinya, akan dengan mudah ditemui tumpukan-tumpukan persegi yang tertutup dengan plastik hitam dan terlindungi dengan pagar-pagar. Ya, jerami-jerami yang seakan tak bermanfaat tengah diubah menjadi bahan pupuk organik yang natinya akan dikembalikan ke lahan pertanian.

Bukan hanya itu, penyebab tak bersisanya lagi jerami di tengah sawah karena jerami-jerami tersebut telah diangkut ke rumah-rumah produksi kompos. Dicampur dengan berbagai bahan lain, jerami diolah kemudian dikemas dengan kemasan yang bersih dan menarik.

Perubahan ini bukan tanpa sebab. Sosialisasi terus menerus PSI dalam mengkampanyekan pertanian sehat dan ramah lingkungan, telah mampu merubah paradigma para petani mitra. Ditambah lagi, fakta tentang pupuk kimia yang harganya terus melambung tanpa diimbangi dengan stok yang mencukupi membuat para pelaku pertanian terutama petani harus mencari sumber pupuk alternatif. Pupuk yang dapat diperoleh dengan mudah, murah dan aman. Jerami yang masih banyak mengandung bahan organik, terutama unsur Kalium (K) yang penting bagi tanaman, menjadi saiah satu jawaban.

Jalan panjang menuju perbaikan kualitas lingkungan melalui pertanian sehat mulai ditumbuhi bunga-bunga indah warna-warni. Kesadaran-kesadaran yang kian tumbuh bagaikan rambu yang membimbing perjalanan. Sebuah harapan kuat mencuat, suatu hari nanti seluruh petani Indonesia akan berteriak lantang, “Kami tak lagi membakar jerami.” [roen]

Sumber: Semai Edisi ke-4 halaman 19

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

*