Deru Perontok Padi di Jeneponto (Sebuah Catatan Perjalanan)

Deru Perontok Padi di Jeneponto (Sebuah Catatan Perjalanan)

323
0
SHARE

Walau diseliputi mendung yang menggantung, Jeneponto tetap terasa hangat. Luas wilayah Jeneponto sekitar 750 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 330 ribu jiwa. Diantara puluhan papan reklame musiman yang bergambar pasangan calon pemimpin daerah disepanjang jalan, ada sebuah tempat yang sempat kami kunjungi. Tempat tersebut masih masuk kedalam wilayah kelurahan, karena masih berada diwilayah kota Jeneponto. Namun kondisinya masih jauh dari yang diharapkan sebuah kelurahan.

Dibelakang rumah-rumah kayu yang sangat sederhana terhampar puluhan hektar sawah yang sebagian besar sudah melalui masa panen. Selanjutnya petani hanya nunggu musim hujan berikutnya untuk tanam. Alasan klasik, karena tidak memiliki sistem irigasi atau biasa disebut sawah tadah hujan. Masyarakat Jeneponto masih terus menantikan terwujudnya bendung waduk Kelara-kareloe yang direncanakan pembangunannya pada tahun 2012.

Diatas hamparan sawah berkeliaran sekian banyak domba dari berbagai keturunan dan kuda yang cukup cantik. Kedua jenis hewan tersebut sangat asyik memagut rumput dan mengunyahnya. Seakan seluruh hamparan tersebut sudah menjadi miliknya. Beberapa ayam dan itik juga tak kalah gesitnya mengkais rejeki dari bulir-bulir gabah yang tercecer dan kadang memperoleh belalang atau serangga sawah. Sebuah proses ekologi yang indah.

Kotoran mereka betebaran diatas malai padi yang dikemudian hari akan melapuk dan berubah fungsi menjadi pupuk bagi tanaman disawah tersebut. Namun sayang, sebagian jerami hangus karena dibakar dan tentunya hilang sudah manfaatnya, selain hanya menjadi abu. Jasad renik yang ada ditanah bekas bakaran tersebut akan binasa. Perlu waktu lagi untuk mengembalikan jumlah populasinya. Dan perlu orang untuk memberi informasi serta pemahaman bagi masyarakat petani.

Dipojok bidang tanah sawah ada aktivitas yang menarik saya. Apa itu? Panen! Di Jeneponto, panen dilakukan saat gabah sudah masuk umur kering panen. Sehingga setelah panen langsung didatangkan perontok padi (tresher) yang disewa dari pemilik. Alat ini milik pribadi yang harus dibayar saat penggunaannya. Biaya yang diperlukan adalah 1 karung gabah dari 13 karung gabah yang dihasilkannya. Perkiraan 1 karung dengan berat 20kg. Setiap 1 kg gabah kering panen dihargai sekitar 3.200 rupiah. Ongkos yang diperlukan untuk merontokkan padi sekitar 64.000 rupiah. Lumayan.

Penggunaan perontok gabah mekanis ini dianjurkan dalam teknologi pasca panen. Dengan menggunakan alat ini petani akan mengantisipasi kehilangan hasil panen mencapai 20%. Bersyukur bahwa petani sudah mulai menerapkan penggunaan alat ini.

Namun sayang, potensi lahan sawah sebagai lumbung pangan di Jeneponto belum digarap secara optimal dan belum mampu meningkatkan pendapat petani secara signifikan. Petani masih jalan sendiri-sendiri dan terkesan malah bersaing satu sama lain. Peran aktif penyuluh belum dirasakan oleh para petani diwilayah ini. Kelompok tani belum pernah dibentuk, bahkan bantuan untuk petani melalui gapoktan tidak kunjung datang. Pasalnya gapoktannya hanya muncul saat ada proyek dari pemerintah dan celakanya bantuan tidak pernah sampai ke sawah para petani yang membutuhkannya.

Dalam diskusi ringan dengan petani-petani yang enggan menyebutkan namanya ini masih berharap bahwa pemimpin daerah kedepan mempunyai kepedulian kepada masyarakat petani. Harapan mereka bukan harapan kosong, karena potensi lahan di Jeneponto sangat luar biasa. Suatu saat Jeneponto harus mampu menjadi lumbung pangan terbesar di Sulawesi hingga menyamai ketenaran coto daging kuda. Semoga asa petani ini segera terwujud, entah siapa yang lebih dahulu menjangkau bahu membahu meningkatkan keberdayaan Jeneponto. Dan 1 Mei, kami ucapkan Selamat hari jadi Jeneponto.

Oleh : Jodi H. Iswanto

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

*