Pengendalian Hama dengan Pestisida Nabati

Pengendalian Hama dengan Pestisida Nabati

1153
0
SHARE

Serangan hama dan penyakit pada tanaman budidaya merupakan salah satu faktor penting yang dapat mengurangi hasil pertanian. Selama ini, petani sangat tergantung kepada pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tersebut,

Dr. Ir. H. Samsudin, MSi

Serangan hama dan penyakit pada tanaman budidaya merupakan salah satu faktor penting yang dapat mengurangi hasil pertanian. Selama ini, petani sangat tergantung kepada pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tersebut,  padahal penggunaan pestisida yang berlebihan, tidak saja akan meningkatkan biaya produksi, tetapi juga berdampak buruk bagi kesehatan petani, konsumen maupun keseimbangan hayati sekitarnya.  Beberapa pengaruh negatif yang akan timbul akibat penggunaan pestisida kimia sintetis adalah:

  1. Hama menjadi resisten (kebal).
  2. Peledakan hama akibat tidak efektifnya pemakaian pestisida.
  3. Penumpukan residu yang dapat membahayakan. petani/pengguna dan konsumen.
  4. Ikut terbunuhnya musuh alami.
  5. Terjadinya polusi lingkungan.
  6. Perubahan status hama dari hama minor menjadi hama utama.

Alternatif

  1. Pencegahan harus dilakukan melalui penggunaan pestisida alami yang tidak meninggalkan residu berbahaya dan ramah lingkungan (friendly environment), penggunaan musuh alami hama (predator dan parasitoid), bio-pestisida, rotasi tanaman dan menanam tanaman kawan (companion plant).
  2. Pada lahan sempit, petani dapat melakukan pengendalian secara manual (memetik daun atau memungut ulat yang menyerang).
  3. Pengamatan dilakukan sesering mungkin, dan petani harus rajin melakukan sanitasi terhadap lingkungan sekitar tanaman.  Daun-daun yang terkena penyakit sebaiknya dibakar (eradikasi).
  4. Rotasi tanaman adalah menanam sayuran yang tidak sekeluarga atau tidak sama, dalam satu tempat dalam jangka waktu tertentu, misalnya : lahan bekas kacang panjang berikutnya jangan ditanami buncis.  Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan penumpukan bibit hama/penyakit.  Selain itu, rotasi tanaman juga bermanfaat bagi penambahan unsur N, misalnya lahan setelah ditanami jagung, berikutnya ditanami kacang buncis/kacang panjang.
  5. Sedangkan tanaman kawan/pendamping (companion plant), berfungsi mengusir hama, aroma tanaman tersebut membuat hama tidak mau mendekat, contoh yang banyak ditemui di lapangan adalah : kol dan tomat.  Aroma tomat sangat tidak disukai oleh kupu-kupu yang menjadi siklus hidup ulat Plutella. Contoh lainnya seledri dan bawang daun, tomat dan bawang daun, selada dan ketimun dan lain-lainnya.
  6. Sedangkan beberapa jenis pestisida organik yang berfungsi sebagai pengendali hama/penyakit antara lain : pestisida nabati (pesnab), agen hayati yang berfungsi sebagai predator atau musuh alami bagi hama-hama atau penyakit jenis tertentu (bio-pestisida), dan bahan-bahan lain yang berfungsi sebagai penarik atau penolak kehadiran serangga/repellent .
  7. Agen hayati umumnya dikembangbiakkan dalam media tertentu dan diaplikasikan dengan cara disemprot (misalnya : virus NPV, bakteri Bt) dan dapat pula dicampurkan dalam media tanam/pupuk (misalnya : Gliocladium).
  8. Tepung belerang dapat ditaburkan pada bagian daun/batang yang terkena busuk jamur (Phytopthora).
  9. Urien sapi juga dapat digunakan sebagai pengusir hama setelah terlebih dahulu dibiarkan selama 2 minggu di bawah sinar matahari dan diencerkan dengan air sebelum  disemprotkan, karena urine yang konsentrasi pekat dapat mengakibatkan daun tanaman terbakar.

Dr. Ir. H. Samsudin, MSi

  padahal penggunaan pestisida yang berlebihan, tidak saja akan meningkatkan biaya produksi, tetapi juga berdampak buruk bagi kesehatan petani, konsumen maupun keseimbangan hayati sekitarnya.  Beberapa pengaruh negatif yang akan timbul akibat penggunaan pestisida kimia sintetis adalah:

  1. Hama menjadi resisten (kebal).
  2. Peledakan hama akibat tidak efektifnya pemakaian pestisida.
  3. Penumpukan residu yang dapat membahayakan. petani/pengguna dan konsumen.
  4. Ikut terbunuhnya musuh alami.
  5. Terjadinya polusi lingkungan.
  6. Perubahan status hama dari hama minor menjadi hama utama.

Alternatif

  1. Pencegahan harus dilakukan melalui penggunaan pestisida alami yang tidak meninggalkan residu berbahaya dan ramah lingkungan (friendly environment), penggunaan musuh alami hama (predator dan parasitoid), bio-pestisida, rotasi tanaman dan menanam tanaman kawan (companion plant).
  2. Pada lahan sempit, petani dapat melakukan pengendalian secara manual (memetik daun atau memungut ulat yang menyerang).
  3. Pengamatan dilakukan sesering mungkin, dan petani harus rajin melakukan sanitasi terhadap lingkungan sekitar tanaman.  Daun-daun yang terkena penyakit sebaiknya dibakar (eradikasi).
  4. Rotasi tanaman adalah menanam sayuran yang tidak sekeluarga atau tidak sama, dalam satu tempat dalam jangka waktu tertentu, misalnya : lahan bekas kacang panjang berikutnya jangan ditanami buncis.  Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan penumpukan bibit hama/penyakit.  Selain itu, rotasi tanaman juga bermanfaat bagi penambahan unsur N, misalnya lahan setelah ditanami jagung, berikutnya ditanami kacang buncis/kacang panjang.
  5. Sedangkan tanaman kawan/pendamping (companion plant), berfungsi mengusir hama, aroma tanaman tersebut membuat hama tidak mau mendekat, contoh yang banyak ditemui di lapangan adalah : kol dan tomat.  Aroma tomat sangat tidak disukai oleh kupu-kupu yang menjadi siklus hidup ulat Plutella. Contoh lainnya seledri dan bawang daun, tomat dan bawang daun, selada dan ketimun dan lain-lainnya.
  6. Sedangkan beberapa jenis pestisida organik yang berfungsi sebagai pengendali hama/penyakit antara lain : pestisida nabati (pesnab), agen hayati yang berfungsi sebagai predator atau musuh alami bagi hama-hama atau penyakit jenis tertentu (bio-pestisida), dan bahan-bahan lain yang berfungsi sebagai penarik atau penolak kehadiran serangga/repellent .
  7. Agen hayati umumnya dikembangbiakkan dalam media tertentu dan diaplikasikan dengan cara disemprot (misalnya : virus NPV, bakteri Bt) dan dapat pula dicampurkan dalam media tanam/pupuk (misalnya : Gliocladium).
  8. Tepung belerang dapat ditaburkan pada bagian daun/batang yang terkena busuk jamur (Phytopthora).
  9. Urien sapi juga dapat digunakan sebagai pengusir hama setelah terlebih dahulu dibiarkan selama 2 minggu di bawah sinar matahari dan diencerkan dengan air sebelum  disemprotkan, karena urine yang konsentrasi pekat dapat mengakibatkan daun tanaman terbakar.

Pestisida nabati memiliki berbagai fungsi yang bermacam-macam, antara lain sebagai :

  • Repelen, yaitu menolak kehadiran serangga (bau yang menyengat)
  • Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot (ada rasa pahit).
  • Mencegah serangga meletakkan telur.
  • Sebagai racun syaraf.
  • Mengacaukan sistem hormon di dalam tubuh serangga.
  • Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga.
  • Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri.


NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

*